PERANGKAT PEMBELAJARAN
Kamis, 30 Agustus 2018
Senin, 18 Februari 2013
Kisah Uwais al-Qarni.. TAK TERKENAL DI BUMI, TERKENAL DI LANGIT
Kisah Uwais al-Qarni.. TAK TERKENAL DI BUMI, TERKENAL DI LANGIT
Pada
zaman Nabi Muhammad SAW, ada seorang pemuda bermata biru, rambutnya
merah, pundaknya lapang panjang, berpenampilan cukup tampan, kulitnya
kemerah-merahan, dagunya menempel di dada selalu melihat pada tempat
sujudnya, tangan kanannya menumpang pada tangan kirinya, ahli membaca Al
Qur’an dan menangis, pakaiannya hanya dua helai sudah kusut yang satu
untuk penutup badan dan yang satunya untuk selendangan, tiada orang yang
menghiraukan, tak dikenal oleh penduduk bumi akan tetapi sangat
terkenal di langit. Dia, jika bersumpah demi Allah pasti terkabul. Pada
hari kiamat nanti ketika semua ahli ibadah dipanggil disuruh masuk
surga, dia justru dipanggil agar berhenti dahulu dan disuruh memberi
syafa’at, ternyata Allah memberi izin dia untuk memberi syafa’at
sejumlah qobilah Robi’ah dan qobilah Mudhor, semua dimasukkan surga tak
ada yang ketinggalan karenanya.Dia adalah “Uwais al-Qarni”.
Ia
tak dikenal banyak orang dan juga miskin, banyak orang suka
menertawakan, mengolok-olok, dan menuduhnya sebagai tukang membujuk,
tukang mencuri serta berbagai macam umpatan dan penghinaan
lainnya.Seorang fuqoha’ negeri Kuffah, karena ingin duduk dengannya,
memberinya hadiah dua helai pakaian, tapi tak berhasil dengan baik,
karena hadiah pakaian tadi diterima lalu dikembalikan lagi olehnya
seraya berkata :“Aku khawatir, nanti sebagian orang menuduh aku, dari
mana kamu dapatkan pakaian itu, kalau tidak dari membujuk pasti dari
mencuri”.Pemuda dari Yaman ini telah lama menjadi yatim, tak punya sanak
famili kecuali hanya ibunya yang telah tua renta dan lumpuh. Hanya
penglihatan kabur yang masih tersisa. Untuk mencukupi kehidupannya
sehari-hari, Uwais bekerja sebagai penggembala kambing. Upah yang
diterimanya hanya cukup untuk sekedar menopang kesehariannya bersama
Sang ibu, bila ada kelebihan, ia pergunakan untuk membantu tetangganya
yang hidup miskin dan serba kekurangan seperti keadaannya.Kesibukannya
sebagai penggembala domba dan merawat ibunya yang lumpuh dan buta, tidak
mempengaruhi kegigihan ibadahnya, ia tetap melakukan puasa di siang
hari dan bermunajat di malam harinya.
Uwais
al-Qarni telah memeluk Islam pada masa negeri Yaman mendengar seruan
Nabi Muhammad SAW. yang telah mengetuk pintu hati mereka untuk menyembah
Allah, Tuhan Yang Maha Esa, yang tak ada sekutu bagi-Nya. Islam
mendidik setiap pemeluknya agar berakhlak luhur. Peraturan-peraturan
yang terdapat di dalamnya sangat menarik hati Uwais, sehingga setelah
seruan Islam datang di negeri Yaman, ia segera memeluknya, karena selama
ini hati Uwais selalu merindukan datangnya kebenaran.Banyak tetangganya
yang telah memeluk Islam, pergi ke Madinah untuk mendengarkan ajaran
Nabi Muhammad SAW secara langsung. Sekembalinya di Yaman, mereka
memperbarui rumah tangga mereka dengan cara kehidupan Islam. Alangkah
sedihnya hati Uwais setiap melihat tetangganya yang baru datang dari
Madinah. Mereka itu telah “bertamu dan bertemu” dengan kekasih Allah
penghulu para Nabi, sedang ia sendiri belum.Kecintaannya kepada
Rasulullah menumbuhkan kerinduan yang kuat untuk bertemu dengan sang
kekasih, tapi apalah daya ia tak punya bekal yang cukup untuk ke
Madinah, dan yang lebih ia beratkan adalah sang ibu yang jika ia pergi,
tak ada yang merawatnya.
Di
ceritakan ketika terjadi perang Uhud Rasulullah SAW mendapat cedera dan
giginya patah karena dilempari batu oleh musuh-musuhnya. Kabar ini
akhirnya terdengar oleh Uwais. Ia segera memukul giginya dengan batu
hingga patah. Hal tersebut dilakukan sebagai bukti kecintaannya kepada
beliau SAW, sekalipun ia belum pernah melihatnya.Hari berganti dan musim
berlalu, dan kerinduan yang tak terbendung membuat hasrat untuk bertemu
tak dapat dipendam lagi. Uwais merenungkan diri dan bertanya dalam
hati, kapankah ia dapat menziarahi Nabinya dan memandang wajah beliau
dari dekat ? Tapi, bukankah ia mempunyai ibu yang sangat membutuhkan
perawatannya dan tak tega ditingalkan sendiri, hatinya selalu gelisah
siang dan malam menahan kerinduan untuk berjumpa.Akhirnya, pada suatu
hari Uwais mendekati ibunya, mengeluarkan isi hatinya dan memohon izin
kepada ibunya agar diperkenankan pergi menziarahi Nabi SAW di Madinah.
Sang
ibu, walaupun telah uzur, merasa terharu ketika mendengar permohonan
anaknya. Beliau memaklumi perasaan Uwais, dan berkata:“Pergilah wahai
anakku ! temuilah Nabi di rumahnya. Dan bila telah berjumpa, segeralah
engkau kembali pulang”.Dengan rasa gembira ia berkemas untuk berangkat
dan tak lupa menyiapkan keperluan ibunya yang akan ditinggalkan serta
berpesan kepada tetangganya agar dapat menemani ibunya selama ia pergi.
Sesudah berpamitan sambil menciumi sang ibu, berangkatlah Uwais menuju
Madinah yang berjarak kurang lebih empat ratus kilometer dari Yaman.
Medan yang begitu ganas dilaluinya, tak peduli penyamun gurun pasir,
bukit yang curam, gurun pasir yang luas yang dapat menyesatkan dan
begitu panas di siang hari, serta begitu dingin di malam hari, semuanya
dilalui demi bertemu dan dapat memandang sepuas-puasnya paras baginda
Nabi SAW yang selama ini dirindukannya.
Tibalah
Uwais al-Qarni di kota Madinah. Segera ia menuju ke rumah Nabi SAW,
diketuknya pintu rumah itu sambil mengucapkan salam. Keluarlah
sayyidatina ‘Aisyah r.a., sambil menjawab salam Uwais. Segera saja Uwais
menanyakan Nabi yang ingin dijumpainya. Namun ternyata beliau SAW tidak
berada di rumah melainkan berada di medan perang.Betapa kecewa hati
sang perindu, dari jauh ingin berjumpa tetapi yang dirindukannya tak
berada di rumah. Dalam hatinya bergolak perasaan ingin menunggu
kedatangan Nabi SAW dari medan perang. Tapi, kapankah beliau pulang ?
Sedangkan masih terngiang di telinga pesan ibunya yang sudah tua dan
sakit-sakitan itu, agar ia cepat pulang ke Yaman,” Engkau harus lekas
pulang”.Karena ketaatan kepada ibunya, pesan ibunya tersebut telah
mengalahkan suara hati dan kemahuannya untuk menunggu dan berjumpa
dengan Nabi SAW. Ia akhirnya dengan terpaksa mohon pamit kepada
sayyidatina ‘Aisyah r.a. untuk segera pulang ke negerinya. Dia hanya
menitipkan salamnya untuk Nabi SAW dan melangkah pulang dengan perasaan
haru.
Sepulangnya
dari perang, Nabi SAW langsung menanyakan tentang kedatangan orang yang
mencarinya. Nabi Muhammad SAW menjelaskan bahwa Uwais al-Qarni adalah
anak yang taat kepada ibunya. Ia adalah penghuni langit (sangat terkenal
di langit). Mendengar perkataan baginda Rosulullah SAW, sayyidatina
‘Aisyah r.a. dan para sahabatnya tertegun. Menurut informasi sayyidatina
‘Aisyah r.a., memang benar ada yang mencari Nabi SAW dan segera pulang
kembali ke Yaman, karena ibunya sudah tua dan sakit-sakitan sehingga ia
tidak dapat meninggalkan ibunya terlalu lama.Rosulullah SAW bersabda :
“Kalau kalian ingin berjumpa dengan dia (Uwais al-Qarni), perhatikanlah,
ia mempunyai tanda putih di tengah-tengah telapak tangannya.”Sesudah
itu beliau SAW, memandang kepada sayyidina Ali k.w. dan sayyidina Umar
r.a. dan bersabda : “Suatu ketika, apabila kalian bertemu dengan dia,
mintalah do’a dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit dan bukan
penghuni bumi”.
Tahun
terus berjalan, dan tak lama kemudian Nabi SAW wafat, hingga
kekhalifahan sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq r.a. telah di estafetkan
Khalifah Umar r.a. Suatu ketika, khalifah Umar teringat akan sabda Nabi
SAW. tentang Uwais al-Qarni, sang penghuni langit. Beliau segera
mengingatkan kepada sayyidina Ali k.w. untuk mencarinya bersama.Sejak
itu, setiap ada kafilah yang datang dari Yaman, beliau berdua selalu
menanyakan tentang Uwais al-Qorni, apakah ia turut bersama mereka.
Diantara kafilah-kafilah itu ada yang merasa heran, apakah sebenarnya
yang terjadi sampai-sampai ia dicari oleh beliau berdua. Rombongan
kafilah dari Yaman menuju Syam silih berganti, membawa barang dagangan
mereka.Suatu ketika, Uwais al-Qorni turut bersama rombongan kafilah
menuju kota Madinah. Melihat ada rombongan kafilah yang datang dari
Yaman, segera khalifah Umar r.a. dan sayyidina Ali k.w. mendatangi
mereka dan menanyakan apakah Uwais turut bersama mereka. Rombongan itu
mengatakan bahwa ia ada bersama mereka dan sedang menjaga unta-unta
mereka di perbatasan kota. Mendengar jawaban itu, beliau berdua bergegas
pergi menemui Uwais al-Qorni.Sesampainya di kemah tempat Uwais berada,
Khalifah Umar r.a. dan sayyidina Ali k.w. memberi salam. Namun rupanya
Uwais sedang melaksanakan sholat. Setelah mengakhiri shalatnya, Uwais
menjawab salam kedua tamu agung tersebut sambil bersalaman.
Sewaktu
berjabatan, Khalifah Umar segera membalikkan tangan Uwais, untuk
membuktikan kebenaran tanda putih yang berada ditelapak tangan Uwais,
sebagaimana pernah disabdakan oleh baginda Nabi SAW. Memang benar ! Dia
penghuni langit.Dan ditanya Uwais oleh kedua tamu tersebut, siapakah
nama saudara ?“Abdullah”, jawab Uwais.Mendengar jawaban itu, kedua
sahabatpun tertawa dan mengatakan : “Kami juga Abdullah, yakni hamba
Allah. Tapi siapakah namamu yang sebenarnya ?”Uwais kemudian berkata:
“Nama saya Uwais al-Qorni”.Dalam pembicaraan mereka, diketahuilah bahwa
ibu Uwais telah meninggal dunia. Itulah sebabnya, ia baru dapat turut
bersama rombongan kafilah dagang saat itu. Akhirnya, Khalifah Umar dan
Ali k.w. memohon agar Uwais berkenan mendo’akan untuk mereka. Uwais
enggan dan dia berkata kepada khalifah:“Sayalah yang harus meminta do’a
kepada kalian”.Mendengar perkataan Uwais, Khalifah berkata:“Kami datang
ke sini untuk mohon do’a dan istighfar dari anda”.Karena desakan kedua
sahabat ini, Uwais al-Qorni akhirnya mengangkat kedua tangannya, berdo’a
dan membacakan istighfar. Setelah itu Khalifah Umar r.a. berjanji untuk
menyumbangkan wang negara dari Baitul Mal kepada Uwais, untuk jaminan
hidupnya.Segera saja Uwais menolak dengan halus dengan berkata : “Hamba
mohon supaya hari ini saja hamba diketahui orang. Untuk hari-hari
selanjutnya, biarlah hamba yang fakir ini tidak diketahui orang lagi.
Setelah
kejadian itu, nama Uwais kembali tenggelam tak terdengar beritanya.Tapi
ada seorang lelaki pernah bertemu dan di tolong oleh Uwais , waktu itu
kami sedang berada di atas kapal menuju tanah Arab bersama para
pedagang, tanpa disangka-sangka angin topan berhembus dengan kencang.
Akibatnya hempasan ombak menghantam kapal kami sehingga air laut masuk
ke dalam kapal dan menyebabkan kapal semakin berat.Pada saat itu, kami
melihat seorang laki-laki yang mengenakan selimut berbulu di pojok kapal
yang kami tumpangi, lalu kami memanggilnya. Lelaki itu keluar dari
kapal dan melakukan sholat di atas air. Betapa terkejutnya kami melihat
kejadian itu.“Wahai waliyullah,” Tolonglah kami !” tetapi lelaki itu
tidak menoleh.Lalu kami berseru lagi,” Demi Zat yang telah memberimu
kekuatan beribadah, tolonglah kami!”Lelaki itu menoleh kepada kami dan
berkata: “Apa yang terjadi ?”“Tidakkah engkau melihat bahwa kapal
dihembus angin dan dihantam ombak ?”tanya kami.“Dekatkanlah diri kalian
pada Allah ! ”katanya.“Kami telah melakukannya.”“Keluarlah kalian dari
kapal dengan membaca bismillahirrohmaanirrohiim!”Kami pun keluar dari
kapal satu persatu dan berkumpul di dekat itu. Pada saat itu jumlah kami
lima ratus jiwa lebih. Sungguh ajaib, kami semua tidak tenggelam,
sedangkan perahu kami berikut isinya tenggelam ke dasar laut. Lalu orang
itu berkata pada kami ,”Tak apalah harta kalian menjadi korban asalkan
kalian semua selamat”.“Demi Allah, kami ingin tahu, siapakah nama Tuan ?
”Tanya kami.“Uwais al-Qorni”. Jawabnya dengan singkat.Kemudian kami
berkata lagi kepadanya, ”Sesungguhnya harta yang ada di kapal tersebut
adalah milik orang-orang fakir di Madinah yang dikirim oleh orang
Mesir.” “Jika Allah mengembalikan harta kalian. Apakah kalian akan
membagi-bagikannya kepada orang-orang fakir di Madinah?”
tanyanya.“Ya,”jawab kami.Orang itu pun melaksanakan sholat dua rakaat di
atas air, lalu berdo’a. Setelah Uwais al-Qorni mengucap salam,
tiba-tiba kapal itu muncul ke permukaan air, lalu kami menumpanginya dan
meneruskan perjalanan.
Setibanya
di Madinah, kami membagi-bagikan seluruh harta kepada orang-orang fakir
di Madinah, tidak satupun yang tertinggal.Beberapa waktu kemudian,
tersiar kabar kalau Uwais al-Qorni telah pulang ke rahmatullah. Anehnya,
pada saat dia akan dimandikan tiba-tiba sudah banyak orang yang
berebutan untuk memandikannya. Dan ketika dibawa ke tempat pembaringan
untuk dikafani, di sana sudah ada orang-orang yang menunggu untuk
mengkafaninya. Demikian pula ketika orang pergi hendak menggali
kuburnya. Di sana ternyata sudah ada orang-orang yang menggali kuburnya
hingga selesai. Ketika usungan dibawa menuju ke pekuburan, luar biasa
banyaknya orang yang berebutan untuk mengusungnya.Dan Syeikh Abdullah
bin Salamah menjelaskan, “ketika aku ikut mengurusi jenazahnya hingga
aku pulang dari mengantarkan jenazahnya, lalu aku bermaksud untuk
kembali ke tempat penguburannya guna memberi tanda pada kuburannya, akan
tetapi sudah tak terlihat ada bekas kuburannya. (Syeikh Abdullah bin
Salamah adalah orang yang pernah ikut berperang bersama Uwais al-Qorni
pada masa pemerintahan sayyidina Umar r.a.)Meninggalnya Uwais al-Qorni
telah menggemparkan masyarakat kota Yaman. Banyak terjadi hal-hal yang
amat mengherankan. Sedemikian banyaknya orang yang tak dikenal
berdatangan untuk mengurus jenazah dan pemakamannya, padahal Uwais
adalah seorang fakir yang tak dihiraukan orang.
Sabtu, 30 Juni 2012
KETIKA IJAZAH MENJADI BERHALA
Ketika ijazah menjadi berhala. Zaman berubah
tiada terasa. Baca tulis melahirkan peradaban. Di atas lembaran sejarah simbol-simbol
tercipta. Kebudayaan dan kemanusiaan menyempit
meruncing kepada satu ‘dunia’ kecil, selembar kertas berharga. Ijazah mengubah peta perjalanan manusia.
Ketika
ijazah menjadi berhala. Pengakuan dan penghormatan manusia di atas
segalanya. Ijazah menjadi nilai tukar kehidupan yang sah. Ijazah menjadi
dewa yang dipuja-puja, berhala yang disembah-sembah, tuan yang
diagung-agungkan.
Ijazah menjadi Tuhan. Manusia menjadi hamba. Mengejar mimpi dan obsesi,
pemenuhan hasrat dan ambisi, lebih dahsyat dari pesona materi.
Ketika
ijazah menjadi berhala, selembar kertas
dianggap keramat. Agung dan mulia. Apapun akan dikorbankan sebagai
ritual penyembahan, bukti ketaatan, kepatuhan dan ketundukan. Simbiosis
mutualis antara hamba dengan tuan. Konsekuensi logis, tuan butuh hamba,
hamba butuh tuan.
Berapapun harganya
akan dibayar. Apapun caranya akan dilakukan. Selama apapun penantian, enam tahun, sembilan, dua belas
bahkan sampai duapuluh tahun perjalanan. Untuk sebuah pengakuan, pengagungan
sesembahan, selembar berhala ijazah.
Dari
SD, SMP, SMA sampai pasca sarjana, ijazah
dikejar dan diincar. Berhala ijazah, menawarkan berjuta pesona. Lembaga
pendidikan
kehilangan 'ruh' keramat. Pendangkalan nilai suci ilmu-pengetahuan.
Pengikisan kearifan dan kebijaksanaan. Kepintaran, kepandaian dan
kecerdasan hanya berputar di dalam otak kepala, namun hati
lengang dan sepi, rongga dada kosong hampa.
Ketika
ijazah menjadi berhala. Santri dan siswa hanya simbolik belaka.
Mengejar
gelar-gelar formal, namun meninggalkan altar- altar spiritual. Menangkap
pangkat-pangkat imitasi namun melepaskan kemuliaan hakiki. Menggapai
ketinggian harga diri namun membuang keluhuran budi pekerti. Mengukir
kemahiran diplomasi namun mengikir ketajaman mata hati dan nurani.
Berhala ijazah menggeser mutiara-mutiara hikmah dan menggusur
khazanah-khazanah berkah.
Ketika
ijazah menjadi berhala, gedung sekolah hanya
persinggahan sementara. Cerobong asap menyemburkan wajah-wajah suram
generasi masa depan, bukan kawah
candradimuka, bejana alam penempa para calon ksatria. Pelatihan mencuri
karya cipta,
mencontek, menjiplak dan membajak tanpa paham makna. Transaksi ilegal
bocoran ujian nasional, jual beli karya tulis dan skripsi, markas besar
tawuran massal, pembelajaran perilaku culas dan brutal.
Ketika ijazah menjadi berhala, pengetahuan
tak lagi berharga, uang menjadi aktor utama. Ijazah palsu bermunculan. Para penipu
kehormatan. Pengkhianatan kepercayaan. Penyelewengan praktek perijinan. Legalitas formal merusak hak-hak dan keadilan sosial.
Sesungguhnya para penyembah ijazah selalu dalam
kebingungan. Hitam putih tak lagi bisa membedakan. Salah kaprah, yang benar
jadi tidak lumrah, dianggap sebagai musuh dan dituduh salah. Yang
salah jadi berhala baru yang disembah-sembah. Tersesat dalam pencarian,
kehilangan arah. Tuhan tak akan memberi petunjuk kepada mereka yang
menyekutukan dalam penghambaan. Kebenaran dan kelurusan jalan hanya
diperuntukkan bagi mereka yang teguh menjaga kemurnian penyembahan.
Setumpuk ijazah di almari, sederet trofi,
sebaris medali, sertifikat dan surat-surat ‘sakti’. Hidup dalam kepalsuan. Halusinasi,
mimpi, semua serba imitasi. Dunia surut menciut, hanya sebatas kertas dengan
ornamen gambar dan beberapa baris tulisan formal, selembar kertas, berhala ijazah.
"
Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai
tuhannya dan Allah membiarkannya sesat dengan sepengetahuan-Nya, dan
Allah telah mengunci pendengaran dan hatinya serta meletakkan tutup atas
penglihatannya ? Maka siapakah yang mampu memberinya petunjuk setelah
Allah (membiarkannya sesat) ? Mengapa kamu tidak mengambil pelajaran ? "
(QS Al Jatsiyah : 23)... ***
El Jeffry
PESAN UNTUK SAHABAT
PESAN UNTUK SAHABAT
Ketika aku berpesan tentang suatu ilmu-pengetahuan,
jangan engkau menyangka bahwa aku bermaksud memberi pengajaran, aku hanya
tengah mengajari diriku sendiri dan tengah berupaya melakukannya
(mempraktekkan-mengamalkan), hanya saja aku bemaksud berbagi kepadamu, lagi
pula engkau tak pernah tahu keseharianku sebelum kita menyempatkan diri untuk
bertemu.
Bisa jadi aku gagal dalam pemahaman dan pengamalan, dan engkau yang berhasil memperoleh keduanya lebih baik dariku, sebab kemampuan orang tidaklah sama. Aku hanya berharap engkau lebih baik dariku, dan setidaknya aku telah memperoleh kebaikan hasil dari berbagi. Bisa jadi aku hanya mendapatkan satu, sedang engkau mendapatkan seratus atau seribu, akupun mendapat kebaikan pula dengan berbagi.
Atau bisa jadi pula aku telah sadar apa yang kusampaikan memang di luar kemampuanku untuk mencapainya, sedang aku tahu sebagian dari engkau pasti ada kemampuan itu, akupun mendapat kebaikan dari pencapaianmu. Sebab jika kupendam hanya karena kehati-hatian berlebihan, maka selamanya tidak ada yang mendapat pencapaian, tidak aku atau engkau, dan itu adalah kesia-siaan, pastinya aku tak mendapatkan satupun kebaikan.
Namun bila yang aku sampaikan dan tengah berusaha kulakukan semampuku hanya engkau anggap angin lalu, sebab engkau tak pernah mengenalku, maka itu sudah di luar tanggung jawabku, aku tetap mendapat kebaikan dari niat dan itikad baik, tak lebih dari itu. Jika kuanggap pesanku adalah niaga (bisnis), maka yang kulakukan adalah ‘laba utama’, sedang engkau kuharap sebagai ‘bonus’nya. Mungkinkah aku hanya mengejar ‘bonus’ dengan mengabaikan ‘laba utama’?
Alangkah baiknya jika yang engkau lihat apa yang disampaikan (ma qaala), bukan siapa yang menyampaikan (man qaala). Shakespeare berkata : “Apa arti sebuah nama?” Memang itu berarti, hanya bila engkau mengenal orangnya. Orang arif berkata : “ Jika engkau hendak mengenal orang, kenalilah tulisannya. Dan jika engkau hendak mengenal tulisan, kenalilah orangnya.”
Tulisan adalah cermin dari pengetahuan dan isi seseorang, ia akan jujur mengungkapkan kepribadian. Jika engkau lihat inkonsistensi (tidak istiqomah) dari tulisannya, maka begitulah dengan orangnya. Demikian pula sebaliknya. Satu hari dia bercerita tentang ketegaran, di hari lain berkeluh kesah tentang kerapuhan. Di satu saat dia berwasiat dengan kekhusyu’an, di saat lain dia mengumbar kata-kata maksiat dan kemungkaran. Hampir pasti bisa dikatakan itulah inkonsistensi. Kata-kata dan pesan hanya kreasi (karya cipta-rekayasa), bukan ekspresi (ungkap rasa-apa adanya).
Seorang ahli ilmu juga pernah berkata : “Jika untuk berpesan (taushiah-nasehat) menunggu segalanya sempurna, maka tidak akan pernah ada sekolah, pengajaran dan penyebaran ilmu-pengetahuan. Jika yang engkau dapati suatu kebaikan, anggapalah itu pengajaran untuk berbuat baik. Dan jika yang engkau dapati suatu keburukan, maka anggaplah itu sebagai pengajaran pula untuk engkau hindarkan.”
Sebagaimana bila akhirnya aku berpesan : “Maukah engkau kuberi tahu 1001 cara untuk ‘mencapai’ kegagalan?” Bila memungkinkan dan engkau berkenan akan kuuraikan satu persatu, dan engaku akan paham maksud pesan itu, apakah aku hendak mengajarimu untuk untuk ‘berhasil’ mencapai kegagalan, atau justru untuk berhasil meraih keberhasilan...***
El Jeffry
Jumat, 13 April 2012
Pengakuan ilmuan tentang kebenaran Alqur'an
KEBENARAN AL-QUR'AN DIKALANGAN ILMUAN DUNIA
Kadang-kadang saya muak dengan tulisan kristen indonesia yang menghujat alqur'an, dan saya berpikir mereka tahu apa tentang alqur'an dan ilmu pengetahuan, Pernahkah orang kristen yang ada diindonesia yang menghujat alqur'an mengukur kemampuan dia dengan ilmuan yang ada dalam video ini yang mengakui kebenaran alqur'an,Dan sangat tidak masuk akal bila ada orang kristen yang hanya tamat SMP. SMU, Atau juga orang kristen penunggu warnet yang mengatakan alqur'an tidak benar, Sedangkan ilmuan dunia yang Gelar mereka Prof. Dr. Dan mereka merupakan imuan yang diakuin dunia dibidangnya, dan keluaraan universitas ternama didunia, dan mereka juga peneliti dan penemu, membenarkan Alqur'an, dan ada orang kristen indonesia yang pendidikannya hanya sebatas SMP SMU SI,Menyalahkan kebenaran alqur'an, ini jelas tidak masuk akal, Dan saya pikir mereka ini adalah orang--orang yang bodoh iri hati dengki dan dalam hati mereka ada penyakit kebodohan yang luar binasa!!
Dan setelah ada pengakuan kebenaran alqur'an dari ilmuan dunia,( Ahli geology.Anatomi.Embriologi
Dan kita biarkan orang kristen indonesia mengatakan alqur'an salah dan tidak benar, biarkan mulut mereka sampai berbusa menghujat alqur'an dan tidak ada ngaruhnya buat umat islam sebab ilmuan dunia telah mengakui kebenaran alqur'an, dan ini sangat jelas memukul iman kristiani sebab yang berbicara kebenaran alqur'an adalah ilmuan dunia, dengan bukti 1.8 milion setiap tahunya penduduk america dan eropa masuk islam, Sedangkan yang menghujat alqur'an. Kristen kelas coro kelas copy paste tentu tidak ada ngaruhnya sedikitpun buat kita umat islam
Ada dua paktor orang yang menolak kebenaran alqur'an yang pertama kebodohan dan yang kedua kesombongan, coba kita simak pernyataan ilmuan tentang kebenaran alqur'an.
1. Prof. Yoshihide Kozai
Guru Besar Universitas Tokyo dan Direktur The National Astronomical Observatory, Mikata, Tokyo, Jepang,
Sulit membayangkan bahwa tipe pengetahuan ini telah ada pada 1400 tahun yang lalu. Mungkin ada beberapa hal yang mereka memiliki ide sederhana tetapi untuk menggambarkan hal ini secara detail sangat susah. Sehingga, hal ini tidak didefinisikan ilmu pengetahuan manusia secara sederhana. Beberapa di antara mereka mengatakan bahwa pengetahuan bisa berasal dari luar alam semesta ini. “
Saya sangat terkesan dengan menemukan fakta-fakta kebenaran astronomi dalam Quran, dan bagi kami para astronom modern telah mempelajari potongan-potongan yang sangat kecil dari alam semesta, Kami telah memusatkan upaya kami untuk memahami bagian terkeci itu. Karena dengan menggunakan teleskop, kita dapat melihat bagian yang paling kecil dari langit tanpa berpikir tentang alam semesta. Dan alqur'an menjawab semua pertanyaan dan apa yang dikatakan alqur'an tentang astronomomi benar tidak ada kesalahan sedikitpun, dan alqur'an ini merupakan jalan dan patner buat saya untuk investigasi alam semesta. "
2. Prof: Dr. T. V. N. Persaud
Ahli anatomi, ahli kesehatan anak-anak,dan ahli ginekologi kebidanan dan ilmu reproduksi di Universitas Manitoba, Winnipeg, Menitoba,Kanada. Persaud is Professor of Anatomy, Professor of Pediatrics and Child Health, and Professor of Obstetrics, Gynecology, and Reproductive Sciences at the University of Manitoba, Winnipeg, Manitoba, Canada. There, he was the Chairman of the Department of Anatomy for 16 years. He is well-known in his field. He is the author or editor of 22 textbooks and has published over 181 scientific papers. In 1991, he received the most distinguished award presented in the field of anatomy in Canada, the J.C.B. Grant Award from the Canadian Association of Anatomists. When he was asked about the scientific miracles in the Quran which he has researched, he stated the following:
Dia mengatakan: Muhammad tidak bisa menulis dan membaca, seorang yang geniuspun tidak akan mampu membuat pernyataan yang menakjubkan dan akurat tentang fakta kebenaran ilmiyah.Dan Semua yang tertulis di dalam al-Quran pasti sebuah kebenaran, yang dapat dibuktikan dengan peralatan ilmiah. “ dan tidak menyulitkan akal saya untuk menerima dan mengatkan bahwa alqur'an adalah wahyu ilahi. We're talking about 1400 years ago, you have some illiterate person making profound statements that are amazingly accurate, of a scientific nature...
3. Prof. Dr. William W. Hay
Hay is a well-known marine scientist. He is Professor of Geological Sciences at the University of Colorado, Boulder, Colorado, USA. He was formerly the Dean of the Rosenstiel School of Marine and Atmospheric Science at the University of Miami, Miami, Florida, USA. After a discussion with Professor Hay about the Quran’s mention of recently discovered facts on seas,
He said:. "I find it very interesting that this sort of information is in the ancient scriptures of the Holy Qur'an, and I have no way of knowing where they would have come from. But I think it is extremely interesting that they are there and this work is going on to discover it, the meaning of some of the passages."
4. Prof. Dr. E. Marshall Johnson
Guru Besar ilmu Anatomi dan Perkembangan Biologi, Universitas Thomas Jefferson, Philadelphia, Pennsylvania, Amerika Serikat. and the Director of the Daniel Baugh Institute. He was also the President of the Teratology Society. He has authored more than 200 publications. In 1981, during the Seventh Medical Conference in Dammam, Saudi Arabia, Professor Johnson said in the presentation of his research paper:
Alquran tidak hanya menjelaskan perkembangan dari bentuk eksternal, tetapi juga menekankan tahap internal, tahapan dalam embrio, penciptaan dan perkembangannya, menekankan peristiwa besar yang diakui oleh ilmu pengetahuan kontemporer. "
Sebagai seorang ilmuwan, saya hanya bisa mengatkan sesuatu apa yang dapat saya lihat. Saya bisa mengerti embriologi dan biologi perkembangan. Saya bisa memahami kata-kata yang diterjemahkan kepada saya dari Al Qur'an, dan apa yang dikatakan alqur'an semuanya benar,
jikalau saya pindah kezaman nabi muhammad dan saya membaca alqur'an saya tidak mmungkin bisa menjelaskan apa yang ada dalam alqur'an, dan ini adalah bukti bahwa ini adalah wahyu ilahi dan saya percaya itu.
5. Prof: Dr. Gerald C. Goeringer is a Professor and Coordinator of Medical Embryology in the Department of Cell Biology, School of Medicine, Georgetown University, Washington DC, USA.
In a relatively few ayahs (Qur'anic verses) is contained a rather comprehensive description of human development from the time of commingling of the gametes through organogenesis. No such distinct and complete record of human development such as classification, terminology, and description existed previously. In most, if not all instances, this description antedates by many centuries the recording of the various stages of human embryonic and fetal development recorded in the traditional scientific literature.
6. Prof. DR. Keith L. Moore is a professor emeritus in the division of anatomy (department of surgery), former Chair of anatomy from 1974 to 1984[1] and associate dean for Basic Medical Sciences (Faculty of Medicine) at the University of Toronto, Ontario, Canada. He has also worked at the King Abdulaziz University in Jeddah, Saudi Arabia. Moreover, he is a founding member of the American Association of Clinical Anatomists (AACA). He was President of the AACA between 1989 and 1991[2]. He is most known for his textbooks on the subjects of anatomy and human embryology.
Telah jelas bagi saya bahwa pernyataan ini pasti berasal dari Allah melalui Muhammad, sebab hampir seluruh pengetahuan ini tldak ditemukan sampai beberapa abad setelahnya. Hal ini membuktikan kepada saya bahwa Muhammad adalah utusan Allah. “Karena pementasan embrio manusia sangat kompleks, karena proses berkelanjutan perubahan selama perkembangan, dan sistem klasifikasi baru dapat dikembangkan dengan menggunakan istilah yang disebutkan dalam Al Qur'an dan Sunnah. Sistem yang diajukan lebih sederhana, komprehensif, dan sesuai dengan pengetahuan embriologi saat ini.
The intensive studies of the Qur'an and Hadith in the last four years have revealed a system of classifying human embryos that is amazing since it was recorded in the seventh century A.D... the descriptions in the Qur'an cannot be based on scientific knowledge in the seventh century.
7. Prof.Dr. Joe Leigh Simpson
Ketua Jurusan Ilmu Kebidanan dan Ginekologi dan Prof. Molecular dan Genetika Manusia, Baylor College Medicine, Houston, Amerika Serikat and Professor of Molecular and Human Genetics at the Baylor College of Medicine, Houston, Texas, USA. Formerly, he was Professor of Ob-Gyn and the Chairman of the Department of Ob-Gyn at the University of Tennessee, Memphis, Tennessee, USA. He was also the President of the American Fertility Society. He has received many awards, including the Association of Professors of Obstetrics and Gynecology Public Recognition Award in 1992. Professor Simpson studied the following two sayings of the Prophet Muhammad:
these Hadiths (sayings of Muhammad) could not have been obtained on the basis of the scientific knowledge that was available at the time of the 'writer'... It follows that not only is there no conflict between genetics and religion (Islam) but in fact religion (Islam) may guide science by adding revelation to some of the traditional scientific approaches... There exist statements in the Qur'an shown centuries later to be valid which support knowledge in the Qur'an having been derived from God
8. Prof. Dr. Alfred Kroner
Ketua Jurusan Geologi Institut Geosciences, Universitas Johannnes Gutterburg, Maintz, Jerman.
Dia mengatakan: "Thinking where Muhammad came from...Dan saya pikir sungguh tidak mungkin bahwa muhammad bisa mengetahui banyak hal tentang i asal mula alam semesta, karena para ilmuwan hanya menemukan ini beberapa tahun terakhir dengan metode teknologi yang sangat canggih, untuk mengungkap fakta ilmiyah,
Jika Anda menggabungkan semua ini dan Anda menggabungkan semua laporan yang dibuat dalam Al Qur'an dalam hal yang berhubungan dengan bumi dan pembentukan bumi dan ilmu pengetahuan pada umumnya, pada dasarnya anda bisa mengatakan bahwa pernyataan yang dibuat ada banyak cara benar, sekarang dapat dikonfirmasikan dengan metode ilmiah, dan dengan cara, kita bisa mengatakan bahwa Qur'an adalah buku teks ilmu pengetahuan sederhana untuk orang sederhana. Dan pernyataan alqur'an pada wakut alqur'an dituruan tidak dapat dibuktikan, tetapi metode ilmiah modern sekarang ini dapat membuktikan apa yang dikatakan Muhammad 1400 tahun yang lalu
9. Prof.Dr: Tejatat Tejasen:Professor Tejasen studied various articles concerning the Qur'an and modern embryology. He spent four days with several scholars, Muslims and non-Muslims, discussing this phenomenon in the Qur'an and Hadith. During the 8th Saudi Medical Conference in Riyadh, Saudi Arabia he stood up and said:
"In the last three years, I became interested in the Qur'an... From my studies and what I have learned throughout this conference, I believe that everything that has been recorded in the Qur'an fourteen hundred years ago must be the truth, that can be proved by the scientific means.
Saya pikir inilah saatnya mengucapkan “Tiada Tuhan yang patut disembah selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah.”Tidak ada keraguan bahwa al-Quran adalah keajaiban abadi yang kita miliki. Sebagaimana firman Allah di dalam al-Quran
10. Napoleon Bonaparte
Dari buku “Bonaparte et I’Islarn oleh Cherlifs, Paris, p. 105, berkata sebagai berikut: Saya meramalkan bahwa tidak lama lagi akan dapat dipersatukan semua manusia yang berakal dan berpendidikan tinggi untuk memajukan satu kesatuan kekuasaan yang berdasarkan prinsip-prinsip ajaran Islam, karena hanyalah Qur’an itu satu-satunya kebenaran yang mampu memimpin manusia kepada kebahagiaan.*
11. W.E. Hocking dalam “Spirit of World Politics New York 32″, p. 461 , berkata: “…saya merasa benar dalam penegasan saya, bahwa Qur’an berisi amat banyak prinsip-prinsip yang diperlukan untuk pertumbuhannya sendiri. Sesungguhnya dapat dikatakan bahwa hingga pertengahan abad ke-13, Islamlah pembawa segala apa yang tumbuh yang dapat dibanggakan oleh dunia Barat.”
12. E. Denisen Ross dari “Introduction to the Koran-George Sale”, p. 5, berkata: “Qur’an memegang peranan yang lebih besar terhadap kaum Muslimin daripada peranan Bible dalam agama Kristen. Ia bukan saja merupakan sebuah kitab suci dari kepercayaan mereka, tetapi juga merupakan text book dari upacara agamanya dan prinsip-prinsip hukum kemasyarakatan…..Sungguh sebuah kitab seperti ini patut dibaca secara meluas di Barat, terutama di masa-masa ini, di mana ruang dan waktu hampir telah dipunahkan oleh penemuan-penemuan modern.”
13. . George Sale dalam buku “Joseph Charles Mardrus-Premilinary Discourse”, berkata: “Di seluruh dunia diakui bahwa Qur’an tertulis dalam bahasa Arab dengan gaya yang paling tinggi, paling murni….diakui sebagai standard bahasa Arab… dan tak dapat ditiru oleh pena manusia… Oleh karena itu diakui sebagai mukjizat yang besar, lebih besar daripada membangkitkan orang mati, dan itu saja sudah cukup untuk meyakinkan dunia bahwa ALQUR'AN itu berasal dari Tuhan.”
14. . G. Margoliouth dalam buku “Introduction to the Koran” (kata pendahuluan untuk buku J. M. H. Rodwell), London, 1918, berkata: “Diakui bahwa Our’an itu mempunyai kedudukan yang penting diantara kitab-kitab Agama di dunia. Walau kitab ini merupakan yang terakhir dari kitab-kitab yang termasuk dalam kesusasteraan ini, ia tidak kalah dari yang mana pun dalam effeknya yang mengagumkan, yang telah ditimbulkannya terhadap sejumlah besar manusia yang telah menciptakan suatu phase kemajuan manusia dan satu tipe karakter yang segar.”
15. DR. John William Draper dalam buku “A History of the intelectual Development in Europe”, London, 1875, jilid 1 , p. 343-344, berkata: “Qur’an mengandung sugesti-sugesti dan proses moral yang cemerlang yang sangat berlimpah-limpah; susunannya demikian fragmenter, sehingga kita tidak dapat membuka satu lembaran tanpa menemukan ungkapan-ungkapan yang harus diterima olehsekalian orang. Susunan fragmenter ini, mengemukakan teks-teks, moto dan peraturan- peraturan yang sempurna sendirinya, sesuai bagi setiap orang untuk setiap peristiwa dalam hidup.”
16. Prof. H. A. R. Gibb dalam buku “Mohammadanism”, London, 1953, p. 33, berkata sebagai berikut: “Nah, jika memang Qur’an itu hasil karyanya sendiri, maka orang lain dapat menandinginya. Cobalah mereka mengarang sebuah ungkapan seperti itu. Kalau sampai mereka tidak sanggup dan boleh dikatakan mereka pasti tidak mampu, maka sewajarnyalah mereka menerima Qur’an sebagai bukti yang kuat tentang mukjizat.”
17. Harry Gaylord Dorman dalam buku “Towards Understanding lslam”, New York, 1948, p.3, berkata: “Kitab Qur’an ini adalah benar-benar sabda Tuhan yang didiktekan oleh Jibril, sempurna setiap hurufnya, dan merupakan suatu mukjizat yang tetap aktual hingga kini, untuk membuktikan kebenarannya dan kebenaran Muhammad.”
18. Prof. Palmer: Ahli Geologi ternama Amerika Serikat.
“llmuwan itu sebenarnya hanya menegaskan apa yang telah tertulis di dalam al-Quran beberapa tahun yang lalu. Para ilmuwan sekarang hanya menemukan apa yang telah tersebut di dalam al-Quran sejak 1400 tahun yang lalu
19 .Professor Armstrong:Prof. Armstrong was asked a number of questions about Qur'anic verses dealing with his field of specialisation. He was eventually asked, "You have seen and discovered for yourself the true nature of modern Astronomy by means of modern equipment, rockets, and satellites developed by man. You have also seen how the same facts were mentioned by the Qur'an fourteen centuries ago. So what is your opinion?"
"That is a difficult question which I have been thinking about since our discussion here. I am impressed at how remarkably some of the ancient writings seem to correspond to modern and recent Astronomy. I am not a sufficient scholar of human history to project myself completely and reliably into the circumstances that 1400 years ago would have prevailed.
Certainly, I would like to leave it at that, that what we have seen is remarkable, it may or may not admit of scientific explanation, there may well have to be something beyond what we understand as ordinary human experience to account for the writings that we have seen
20. Prof: Dr Maurice Bucaille: Ia adalah penulis best-seller,"The Bible, The Qur'an and Science" (1976). His classical studies of the scriptural languages, including Arabic, in association with his knowledge of hieroglyphics, have allowed him to hold a multidisciplinary inquiry, in which his personal contribution as a medical doctor has produced conclusive arguments. His work, "Mummies of the Pharaohs - Modern Medical Investigations" (St. Martins Press, 1990), won a History Prize from the Académie Française and another prize from the French National Academy of Medicine.
His other works include: "What is the Origin of Man" (Seghers, 1988), "Moses and Pharaoh, the Hebrews in Egypt", (NTT Mediascope Inc, 1994); and "Réflexions sur le Coran" (Mohamed Talbi & Maurice Bucaille, Seghers, 1989
After a study which lasted ten years, Dr. Maurice Bucaille addressed the French Academy of Medicine in 1976 concerning the existence in the Qur'an of certain statements concerning physiology and reproduction. His reason for doing that was that :
our knowledge of these disciplines is such, that it is impossible to explain how a text produced at the time of the Qur'an could have contained ideas that have only been discovered in modern times."
"The above observation makes the hypothesis advanced by those who see Muhammad as the author of the Qur'an untenable. How could a man, from being illiterate, become the most important author, in terms of literary merits, in the whole of Arabic literature?
How could he then pronounce truths of a scientific nature that no other human-being could possibly have developed at that time, and all this without once making the slightest error in his pronouncement on the subject?"
Demikianlah pengakuan ilmuan tentang kebenaran alqur'an dan semua ilmuan mengakui kebenaran alqur'an dan mereka semua yakin bahwa alqur'an adalah kitab suci dari tuhan
Senin, 09 April 2012
MUSLIM PELOPOR HEBAT DALM SAINS MODERN
MUSLIM PELOPOR HEBAT DALAM SAINS
Read more: http://fisikasma-online.blogspot.com/2010/01/jejak-kegemilangan-umat-islam-dalam_29.html#ixzz1rWeP2y6Y
Under Creative Commons License: Attribution

MUSLIM PELOPOR HEBAT DALAM SAINS
Sejarah perjuangan umat Islam dalam
pentas peradaban dunia berlangsung sangat lama sekira 13 abad, yaitu sejak masa
kepemimpinan Rasulullah Saw di Madienah (622-632M); Masa Daulat Khulafaur
Rasyidin (632-661M); Masa Daulat Umayyah (661-750M) dan Masa Daulat Abbasiyah
(750-1258 M) sampai tumbangnya Kekhilafahan Turki Utsmani pada tanggal 28 Rajab
tahun 1342 H atau bertepatan dengan tanggal 3 Maret 1924 M, dimana masa-masa
kejayaan dan puncak keemasannya banyak melahirkan banyak ilmuwan muslim
berkaliber internasional yang telah menorehkan karya-karya luar biasa dan
bermanfaat bagi umat manusia yang terjadi selama kurang lebih 700 tahun,
dimulai dari abad 6 M sampai dengan abad 12 M. Pada masa tersebut, kendali
peradaban dunia berada pada tangan umat Islam.
Pada saat berjayanya peradaban Islam
semangat pencarian ilmu sangat kental dalam kehidupan sehari-hari. Semangat
pencarian ilmu yang berkembang menjadi tradisi intelektual secara historis
dimulai dari pemahaman (tafaqquh) terhadap al-Qur'an yang diwahyukan kepada
Nabi Muhammad saw yang kemudian dipahami, ditafsirkan dan dikembangkan oleh
para sahabat, tabiin, tabi' tabiin dan para ulama yang datang kemudian dengan
merujuk pada Sunnah Nabi Muhammad saw.
ERA RASULULLOH SAW (622-632M) DAN
PERIODE DAULAT KHULAFAUR RASYIDIN (632-661 M)
Kesuksesan Rasulullah Muhammad Saw
dalam membangun peradaban Islam yang tiada taranya dalam sejarah dicapai dalam
kurun waktu 23 tahun, 13 tahun langkah persiapan pada periode Makkah (Makiyyah)
dan 10 tahun periode Madienah (Madaniyah). Periode 23 tahun merupakan rentang
waktu kurang dari satu generasi, dimana beliau Saw telah berhasil memegang
kendali kekuasaan atas bangsa-bangsa yang lebih tua peradabannya saat itu
khususnya Romawi, Persia dan Mesir.
Seorang ahli pikir Perancis bernama
Dr. Gustave Le Bone mengatakan:
“Dalam satu abad atau 3 keturunan,
tidak ada bangsa-bangsa manusia dapat mengadakan perubahan yang berarti. Bangsa
Perancis memerlukan 30 keturunan atau 1000 tahun baru dapat mengadakan suatu
masyarakat yang bercelup Perancis. Hal ini terdapat pada seluruh bangsa dan
umat, tak terkecuali selain dari umat Islam, sebab Muhammad El-Rasul sudah
dapat mengadakan suatu masyarakat baru dalam tempo satu keturunan (23 tahun)
yang tidak dapat ditiru atau diperbuat oleh orang lain”.
Masa kerasulan Muhammad Saw pada
akhir periode Madienah merupakan puncak (kulminasi) peradaban Islam, karena
disitulah sistem Islam disempurnakan dan ditegakkan dalam kehidupan
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
“Pada hari ini telah Kusempurnakan
untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah
Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu”. (QS. Al-Maidah ayat 3).
Generasi masa itu merupakan generasi
terbaik sebagaimana firman Alloh Swt:“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan
untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan
beriman kepada Alloh”. (QS. Ali Imran ayat 110).
PERIODE DAULAT UMAYYAH (661-750M)
Masa Kedaulatan Umayyah berlangsung
selama lebih kurang 90 tahun. Beberapa orang Khalifah besar Bani Umayyah ini
adalah Muawiyah bin Abi Sufyan (661-680 M), Abdul Malik bin Marwan (685- 705
M), Al-Walid bin Abdul Malik (705-715 M), Umar bin Abdul Aziz (717- 720 M) dan
Hasyim bin Abdul Malik (724- 743 M).
Awal berlangsungya periode Daulat
Umayyah lebih memprioritaskan pada perluasan wilayah kekuasaan. Ekspansi
wilayah yang sempat terhenti pada masa Khalifah Utsman dan Khalifah Ali
dilanjutkan kembali oleh Daulat Umayyah. Pada zaman Muawiyah, Tunisia
ditaklukkan. Di sebelah Timur, Muawiyah dapat menguasai daerah Khurasan sampai
ke sungai Oxus dan Afganistan sampai ke Kabul. Angkatan lautnya melakukan
serangan-serangan ke ibu kota Bizantium, Konstantinopel. Ekspansi ke timur yang
dilakukan Muawiyah kemudian dilanjutkan oleh khalifah Abdul Malik. Dia mengirim
tentara menyeberangi sungai Oxus dan dapat berhasil menundukkan Balkh, Bukhara,
Khawarizm, Ferghana dan Samarkand. Tentaranya bahkan sampai ke India dan dapat
menguasai Balukhistan, Sind dan daerah Punjab sampai ke Maltan.
Ekspansi ke Barat secara
besar-besaran dilanjutkan pada zaman Al-Walid bin Abdul Malik. Masa
pemerintahan Walid adalah masa ketenteraman, kemakmuran dan ketertiban, dimana
umat Islam merasa hidup bahagia. Pada masa pemerintahannya yang berjalan kurang
lebih sepuluh tahun, tercatat bahwa pada tahun 711 M merupakan suatu ekspedisi
militer dari Afrika Utara menuju wilayah Barat Daya, benua Eropa. Setelah
Al-Jazair dan Marokko dapat ditundukan, Tariq bin Ziyad, panglima pasukan
Islam, dengan pasukannya menyeberangi selat yang memisahkan antara Marokko
dengan benua Eropa, dan mendarat di suatu tempat yang sekarang dikenal dengan
nama Gibraltar (Jabal Tariq). Tentara Spanyol dapat dikalahkan. Dengan
demikian, Spanyol menjadi sasaran ekspansi selanjutnya. Ibu kota Spanyol, Cordova,
dengan cepatnya dapat dikuasai. Menyusul setelah itu kota-kota lain seperti
Sevi'e, Elvira dan Toledo yang dijadikan ibu kota Spanyol yang baru setelah
jatuhnya Cordova. Pasukan Islam memperoleh kemenangan dengan mudah karena
mendapat dukungan dari rakyat setempat yang sejak lama menderita akibat
kekejaman penguasa. Pada zaman Umar bin Abdul Aziz, serangan dilakukan ke
Prancis melalui pegunungan Piranee. Serangan ini dipimpin oleh Aburrahman bin
Abdullah Al-Ghafiqi. Ia mulai dengan menyerang Bordeau, Poitiers. Dari sana ia
mencoba menyerang Tours. Namun, dalam peperangan yang terjadi di luar kota
Tours, Al-Ghafiqi terbunuh, dan tentaranya mundur kembali ke Spanyol. Disamping
daerah-daerah tersebut di atas, pulau-pulau yang terdapat di Laut Tengah juga jatuh
ke tangan Islam pada zaman Bani Umayyah.
Dengan keberhasilan ekspansi ke
beberapa daerah, baik di timur maupun barat, wilayah kekuasaan Islam masa Bani
Umayyah ini betul-betul sangat luas. Daerah-daerah itu meliputi Spanyol, Afrika
Utara, Syria, Palestina, Jazirah Arabia, Irak, sebagian Asia Kecil, Persia,
Afganistan, daerah yang sekarang disebut Pakistan, Purkmenia, Uzbek, dan Kirgis
di Asia Tengah.
Disamping ekspansi kekuasaan Islam,
Bani Umayyah juga banyak berjasa dalam pembangunan di berbagai bidang. Pada
bidang pengembangan keilmuan, Daulat Umayyah mengawalinya dengan mengeluarkan
sebuah kebijakan startegis. Adalah Khalifah Abdul Malik (685-705M) merupakan
Khalifah pertama yang berhasil melakukan berbagi pembenahan administrasi
pemerintahan dimana beliau memerintahkan penggunaan Bahasa Arab sebagai bahasa
resmi administrasi pemerintahan dan kenegaraan di seluruh wilayah Islam yang
membentang dari Pegunungan Thian Shan di sebelah Timur sampai Pegunungan
Pyrenees di Sebelah Barat termasuk dalam berbagai administrasi kenegaraan
lainnya yang pada perkembangan selanjutnya Bahasa Arab menjadi bahasa umum
sebagai bahasa pengantar dunia (lingua franca), juga menjadi bahasa diplomatik
antar Bangsa diantara Barat dan Timur bahkan berkembang menjadi bahasa ilmiah
sampai kepada zaman renaissance, hingga Roger Bacon (1214-1294 M) dari Oxford
ahli pikir Inggeris terbesar itu, menurut Ecyclopedia Britanica, 1951, volume
II, halaman 191-197, mendorong sedemikian rupa untuk mempelajari Bahasa Arab
guna memperoleh pengetahuan yang sangat murni, yang menyatakan bahwa: “Roger
Bacon, placing Averroes beside Aristole and Avicenna, recomends the study of
Arabic as the only way of getting the knowledge which bad versions obscured”,
yakni “menganjurkan mempelajari Bahasa Arab sebagai jalan satu-satunya bagi
memperoleh ilmu yang telah dikaburkan oleh versi-versi yang jelek” sebelumnya.
Kemajuan tradisi intelektual dan
ilmu pengetahuan pada zaman Daulat Umayyah di Andalusia dirasakan oleh
masyarakat Eropa. Oliver Leaman menggambarkan kondisi kehidupan intelektual di
sana sebagai berikut:
“….pada masa peradaban agung [wujud]
di Andalus, siapapun di Eropa yang ingin mengetahui sesuatu yang ilmiyah ia
harus pergi ke Andalus. Di waktu itu banyak sekali problem dalam literatur
Latin yang masih belum terselesaikan, dan jika seseorang pergi ke Andalus maka
sekembalinya dari sana ia tiba-tiba mampu menyelesaikan masalah-masalah itu.
Jadi Islam di Spanyol mempunyai reputasi selama ratusan tahun dan menduduki
puncak tertinggi dalam pengetahuan filsafat, sains, tehnik dan matematika. Ia
mirip seperti posisi Amerika saat ini, dimana beberapa universitas penting
berada”.
Pada bidang lainnya, pembangunan
yang dilakukan Muawiyah diantaranya mendirikan dinas pos dan tempat-tempat
tertentu dengan menyediakan kuda yang lengkap dengan peralatannya di sepanjang
jalan. Dia juga berusaha menertibkan angkatan bersenjata dan mencetak mata
uang. Pada masanya, jabatan khusus seorang hakim (qadhi) mulai berkembang
menjadi profesi tersendiri. Qadhi adalah seorang spesialis dibidangnya.
Khalifah Abdul Malik mengubah mata uang Bizantium dan Persia yang dipakai di
daerah-daerah yang dikuasai Islam. Untuk itu, dia mencetak uang tersendiri pada
tahun 659 M dengan memakai kata-kata dan tulisan Arab. Keberhasilan Khalifah
Abdul Malik diikuti oleh puteranya Al-Walid bin Abdul Malik (705-715 M) seorang
yang berkemauan keras dan berkemampuan melaksanakan pembangunan. Dia membangun
panti-panti untuk orang cacat. Semua personel yang terlibat dalam kegiatan yang
humanis ini digaji oleh negara secara tetap. Dia juga membangun jalan-jalan
raya yang menghubungkan suatu daerah dengan daerah lainnya, pabrik-pabrik,
gedung-gedung pemerintahan dan masjid-masjid yang megah.
Pada lapangan perdagangan yakni pada
saat peradaban Islam telah menguasai dunia perdagangan sejak permulaan Daulat
Umayyah (661-750M), dimana pesisir lautan Hindia sampai ke Lembah Sind,
sehingga terjalin kesatuan wilayah yang luas dari Timur sampai Barat yang
berimplikasi terhadap lancarnya lalu-lintas dagang di dataran antara Tiongkok
dengan dunia belahan Barat pegunungan Thian Shan melalui Jalan Sutera (Silk
Road) yang terkenal itu, yang kemudian terbuka pula jalur perdagangan melalui
Teluk Parsi, Teluk Aden yang menghubungkannya dengan kota-kota dagang di
sepanjang pesisir Benua Eropa, menyebabkan “kebutuhan Eropa pada saat itu amat
tergantung pada kegiatan dagang di dalam wilayah Islam”.
PERIODE DAULAT ABBASIYAH (132H/750M
s.d. 656H/1258 M)
Masa Kedaulatan Abbasiyah
berlangsung selama 508 tahun, sebuah rentang sejarah yang cukup lama dalam
sebuah peradaban. Berdasarkan perubahan pola pemerintahan dan politik, para
sejarawan biasanya membagi masa pemerintahan Bani Abbas menjadi lima periode: (1)
Periode Pertama (132 H/750 M-232 H/847 M), disebut periode pengaruh Persia
pertama; (2) Periode Kedua (232 H/847 M-334 H/945 M), disebut pereode pengaruh
Turki pertama; (3) Periode Ketiga (334 H/945 M-447 H/1055 M), masa kekuasaan
dinasti Buwaih dalam pemerintahan khilafah Abbasiyah. Periode ini disebut juga
masa pengaruh Persia kedua; (4) Periode Keempat (447 H/1055 M-590 H/l194 M),
masa kekuasaan dinasti Bani Seljuk dalam pemerintahan khilafah Abbasiyah;
biasanya disebut juga dengan masa pengaruh Turki kedua; (5) Periode Kelima (590
H/1194 M-656 H/1258 M), masa khalifah bebas dari pengaruh dinasti lain, tetapi
kekuasaannya hanya efektif di sekitar kota Bagdad.
Tidak seperti pada periode Umayyah,
Periode pertama Daulat Abbasiyah lebih memprioritaskan pada penekanan pembinaan
peradaban dan kebudayaan Islam daripada perluasan wilayah. Fakta sejarah
mencatat bahwa masa Kedaulatan Abbasiyah merupakan pencapaian cemerlang di
dunia Islam pada bidang sains, teknologi dan filsafat. Pada saat itu dua
pertiga bagian dunia dikuasai oleh Kekhilafahan Islam.
Masa sepuluh Khalifah pertama dari
Daulat Abbasiyah merupakan masa kejayaan (keemasan) peradaban Islam, dimana
Baghdad mengalami kemajuan ilmu pengetahuan yang pesat. Secara politis, para
khalifah betul-betul merupakan tokoh yang kuat dan merupakan pusat kekuasaan
politik dan agama sekaligus. Di sisi lain, kemakmuran masyarakat mencapai
tingkat tertinggi. Periode ini juga berhasil menyiapkan landasan bagi
perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan dalam Islam. Namun setelah periode
ini berakhir, pemerintahan Bani Abbas mulai menurun dalam bidang politik,
meskipun filsafat dan ilmu pengetahuan terus berkembang.
Pada masa sepuluh Khalifah pertama
itu, puncak pencapaian kemajuan peradaban Islam terjadi pada masa pemerintahan
Harun Al-Rasyid (786-809 M). Harun Al-Rasyid adalah figur khalifah shaleh ahli
ibadah; senang bershadaqah; sangat mencintai ilmu sekaligus mencintai para
‘ulama; senang dikritik serta sangat merindukan nasihat terutama dari para
‘ulama. Pada masa pemerintahannya dilakukan sebuah gerakan penerjemahan
berbagai buku Yunani dengan menggaji para penerjemah dari golongan Kristen dan
penganut agama lainnya yang ahli. Ia juga banyak mendirikan sekolah, yang salah
satu karya besarnya adalah pembangunan Baitul Hikmah, sebagai pusat
penerjemahan yang berfungsi sebagai perguruan tinggi dengan perpustakaan yang
besar. Perpustakaan pada masa itu lebih merupakan sebuah universitas, karena di
samping terdapat kitab-kitab, di sana orang juga dapat membaca, menulis dan
berdiskusi.
Harun Al-Rasyid juga menggunakan
kekayaan yang banyak untuk dimanfaatkan bagi keperluan sosial. Rumah sakit,
lembaga pendidikan dokter, dan farmasi didirikan. Pada masanya sudah terdapat
paling tidak sekitar 800 orang dokter. Disamping itu, pemandian-pemandian umum
juga dibangun. Kesejahteraan, sosial, kesehatan, pendidikan, ilmu pengetahuan,
dan kebudayaan serta kesusasteraan berada pada zaman keemasannya. Pada masa
inilah negara Islam menempatkan dirinya sebagai negara terkuat yang tak tertandingi.
Terjadinya perkembangan lembaga
pendidikan pada masa Harun Al Rasyid mencerminkan terjadinya perkembangan dan
kemajuan ilmu pengetahuan. Hal ini sangat ditentukan oleh perkembangan bahasa
Arab, baik sebagai bahasa administrasi yang sudah berlaku sejak zaman Bani
Umayyah, maupun sebagai bahasa ilmu pengetahuan.
Pada masa pemerintahan Abbasiyah
pertama juga lahir para imam mazhab hukum yang empat hidup Imam Abu Hanifah
(700-767 M); Imam Malik (713-795 M); Imam Syafi'i (767-820 M) dan Imam Ahmad
bin Hanbal (780-855 M).
Pencapaian kemajuan dunia Islam pada
bidang ilmu pengetahuan tersebut tidak terlepas dari adanya sikap terbuka dari
pemerintahan Islam pada saat itu terhadap berbagai budaya dari bangsa-bangsa
sebelumnya seperti Yunani, Persia, India dan yang lainnya. Gerakan
penterjemahan yang dilakukan sejak Khalifah Al-Mansur (745-775 M) hingga Harun
Al-Rasyid berimplikasi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan umum, terutama di
bidang astronomi, kedokteran, filsafat, kimia, farmasi, biologi, fisika dan
sejarah.
Menurut Demitri Gutas proses
penterjemahan di zaman Abbasiyah didorong oleh motif sosial, politik dan
intelektual. Ini berarti bahwa para pihak baik dari unsur masyarakat, elit
penguasa, pengusaha dan cendekiawan terlibat dalam proses ini, sehingga dampaknya
secara kultural sangat besar.
Gerakan penerjemahan pada zaman itu
kemudian diikuti oleh suatu periode kreativitas besar, karena generasi baru
para ilmuwan dan ahli pikir muslim yang terpelajar itu kemudian membangun
dengan ilmu pengetahuan yang diperolehnya untuk mengkontribusikannya dalam
berbagai bidang ilmu pengetahuan.
Menurut Marshall, proses pengislaman
tradisi-tradisi itu telah berbuat lebih jauh dari sekadar mengintegrasikan dan
memperbaiki, hal itu telah menghasilkan energi kreatif yang luar biasa.
Menurutnya, periode kekhalifahan dalam sejarah Islam merupakan periode
pengembangan di bidang ilmu, pengetahuan dan kebudayaan, dimana pada zaman itu
telah melahirkan tokoh-tokoh besar di bidang filsafat dan ilmu pengetahuan
seperti Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, Al-Farabi. Berbagai pusat pendidikan tempat
menuntut ilmu dengan perpustakaan-perpustakaan besar bermunculan di Cordova,
Palermo, Nisyapur, Kairo, Baghdad, Damaskus, dan Bukhara, dimana pada saat yang
sama telah mengungguli Eropa yang tenggelam dalam kegelapan selama
berabad-abad. Kehidupan kebudayaan dan politik baik dari kalangan orang Islam
maupun non-muslim pada zaman kekhilafahan dilakukan dalam kerangka Islam dan
bahasa Arab, walaupun terdapat perbedaan-perbedaan agama dan suku yang plural.
Pada saat itu umat Islam telah
berhasil melakukan sebuah akselerasi, jauh meninggalkan peradaban yang ada pada
saat itu. Hidupnya tradisi keilmuan, tradisi intelektual melalui gerakan
penerjamahan yang kemudian dilanjutkan dengan gerakan penyelidikan yang didukung
oleh kuatnya elaborasi dan spirit pencarian, pengembangan ilmu pengetahuan yang
berkembang secara pesat tersebut, mengakibatkan terjadinya lompatan kemajuan di
berbagai bidang keilmuan yang telah melahirkan berbagai karya ilmiah yang luar
biasa.
Menurut Oliver Leaman proses
penterjemahan yang dilakukan ilmuwan muslim tidak hanya menterjemahkan
karya-karya Yunani secara ansich, tetapi juga mengkaji teks-teks itu, memberi
komentar, memodifikasi dan mengasimilasikannya dengan ajaran Islam. Proses asimilasi
tersebut menurut Thomas Brown terjadi ketika peradaban Islam telah kokoh.
Sains, filsafat dan kedoketeran Yunani diadapsi sehingga masuk kedalam
lingkungan pandangan hidup Islam. Proses ini menggambarkan betapa tingginya
tingkat kreativitas ilmuwan muslim sehingga dari proses tersebut telah
melahirkan pemikiran baru yang berbeda sama sekali dari pemikiran Yunani dan
bahkan boleh jadi asing bagi pemikiran Yunani.
Pada masa-masa permulaan
perkembangan kekuasaan, Islam telah memberikan kontribusi kepada dunia berupa
tiga jenis alat penting yaitu paper (kertas), compass (kompas) and gunpowder
(mesiu). Penemuan alat cetak (movable types) di Tiongkok pada penghujung abad
ke-8 M dan penemuan alat cetak serupa di Barat pada pertengahan abad 15 oleh
Johann Gutenberg, menurut buku Historians’ History of the World, akan tidak ada
arti dan gunanya jika Bangsa Arab tidak menemukan lebih dahulu cara-cara bagi
pembuatan kertas.
Pencapaian prestasi yang gemilang
sebagai implikasi dari gerakan terjemahan yang dilakukan pada zaman Daulat
Abbasiah sangat jelas terlihat pada lahirnya para ilmuwan muslim yang mashur
dan berkaliber internasional seperti : Al-Biruni (fisika, kedokteran); Jabir
bin Hayyan (Geber) pada ilmu kimia; Al-Khawarizmi (Algorism) pada ilmu
matematika; Al-Kindi (filsafat); Al-Farazi, Al-Fargani, Al-Bitruji (astronomi);
Abu Ali Al-Hasan bin Haythami pada bidang teknik dan optik; Ibnu Sina
(Avicenna) yang dikenal dengan Bapak Ilmu Kedokteran Modern; Ibnu Rusyd
(Averroes) pada bidang filsafat; Ibnu Khaldun (sejarah, sosiologi). Mereka
telah meletakkan dasar pada berbagai bidang ilmu pengetahuan.
Beberapa ilmuwan muslim lainnya pada
masa Daulat Abbasiyah yang karyanya diakui dunia diantaranya:
• Al-Razi (guru Ibnu Sina), berkarya
dibidang kimia dan kedokteran, menghasilkan 224 judul buku, 140 buku tentang
pengobatan, diterjemahkan ke dalam Bahasa Latin. Bukunya yang paling masyhur
adalah Al-Hawi Fi ‘Ilm At Tadawi (30 jilid, berisi tentang jenis-jenis penyakit
dan upaya penyembuhannya). Buku-bukunya menjadi bahan rujukan serta panduan
dokter di seluruh Eropa hingga abad 17. Al-Razi adalah tokoh pertama yang
membedakan antara penyakit cacar dengan measles. Dia juga orang pertama yang
menyusun buku mengenai kedokteran anak. Sesudahnya, ilmu kedokteraan berada di tangan
Ibnu Sina;
• Al-Battani (Al-Batenius), seorang
astronom. Hasil perhitungannya tentang bumi mengelilingi pusat tata surya dalam
waktu 365 hari, 5 jam, 46 menit, 24 detik, mendekati akurat. Buku yang paling
terkenal adalah Kitab Al Zij dalam bahasa latin: De Scienta Stellerum u De
Numeris Stellerumet Motibus, dimana
terjemahan tertua dari karyanya
masih ada di Vatikan;
• Al Ya’qubi, seorang ahli geografi,
sejarawan dan pengembara. Buku tertua dalam sejarah ilmu geografi berjudul Al
Buldan (891), yang diterbitkan kembali oleh Belanda dengan judul Ibn Waddih qui
dicitur al-Ya’qubi historiae;
• Al Buzjani (Abul Wafa). Ia
mengembangkan beberapa teori penting di bidang matematika (geometri dan
trigonometri).
Sejarah telah membuktikan bahwa
kontribusi Islam pada kemajuan ilmu pengetahuan di dunia modern menjadi fakta
sejarah yang tak terbantahkan. Bahkan bermula dari dunia Islamlah ilmu
pengetahuan mengalami transmisi (penyebaran, penularan), diseminasi dan
proliferasi (pengembangan) ke dunia Barat yang sebelumnya diliputi oleh masa
‘the Dark Ages’ mendorong munculnya zaman renaissance atau enlightenment
(pencerahan) di Eropa.
Melalui dunia Islam-lah mereka
mendapat akses untuk mendalami dan mengembangkan ilmu pengetahuan modern.
Menurut George Barton, ketika dunia Barat sudah cukup masak untuk merasakan
perlunya ilmu pengetahuan yang lebih dalam, perhatiannya pertama-tama tidak
ditujukan kepada sumber-sumber Yunani, melainkan kepada sumber-sumber Arab.
Sebelum Islam datang, menurut Gustav
Le Bon, Eropa berada dalam kondisi kegelapan, tak satupun bidang ilmu yang maju
bahkan lebih percaya pada tahayul. Sebuah kisah menarik terjadi pada zaman
Daulat Abbasiah saat kepemimpinan Harun Al-Rasyid, tatkala beliau mengirimkan
jam sebagai hadiah pada Charlemagne seorang penguasa di Eropa. Penunjuk waktu
yang setiap jamnya berbunyi itu oleh pihak Uskup dan para Rahib disangka bahwa
di dalam jam itu ada jinnya sehingga mereka merasa ketakutan, karena dianggap
sebagai benda sihir. Pada masa itu dan masa-masa berikutnya, baik di belahan
Timur Kristen maupun di belahan Barat Kristen masih mempergunakan jam pasir
sebagai penentuan waktu.
Bagaimana kondisi kegelapan Eropa
pada zaman pertengahan (Abad 9 M) bukan hanya pada aspek mental-dimana
cenderung bersifat takhayul, demikian pula halnya dalam aspek fisik material.
Hal ini sebagaimana digambarkan oleh William Drapper:
“Pada zaman itu Ibu Kota
pemerintahan Islam di Cordova merupakan kota paling beradab di Eropa, 113.000
buah rumah, 21 kota satelit, 70 perpustakaan dan toko-toko buku, masjid-masjid
dan istana yang banyak. Cordova menjadi mashur di seluruh dunia, dimana jalan
yang panjangnya bermil-mil dan telah dikeraskan diterangi dengan lampu-lampu
dari rumah-rumah di tepinya. Sementara kondisi di London 7 abad sesudah itu
(yakni abad 15 M), satu lampu umumpun tidak ada. Di Paris berabad-abad sesudah
zaman Cordova, orang yang melangkahi ambang pintunya pada saat hujan, melangkah
sampai mata kakinya ke dalam lumpur”.
Menurut Philip K. Hitti, jarak
peradaban antara kaum muslimin di bawah kepemimpinan Harun Al-Rasyid jauh
melampaui peradaban yang ada pada orang-orang Kristen pimpinan Charlemagne.
Pertengahan abad 9 M peradaban Islam
telah meliputi seluruh Spanyol. Masuknya Islam ke Spanyol yaitu setelah Abdur
Rahman ad-Dakhil (756 M) berhasil membangun pemerintahan yang berpusat di
Andalusia.
Melalui Spanyol, Sicilia dan Perancis
Selatan yang berada langsung di bawah pemerintahan Islam, peradaban Islam
memasuki Eropa. Bahasa Arab menjadi bahasa internasional yang digunakan
berbagai suku bangsa di berbagai negeri di dunia. Baghdad di Timur dan Cordova
di Barat, dua kota raksasa Islam menerangi dunia dengan cahaya gilang-gemilang.
Sekitar tahun 830 M, Alfonsi-Raja Asturia telah mendatangkan dua sarjana Islam
untuk mendidik ahli warisnya. Sekolah Tinggi Kedokteran yang didirikan di
Perancis (di Montpellier) dibina oleh beberapa orang Mahaguru dari Andalusia.
Keunggulan ilmiah kaum muslimin tersebar jauh memasuki Eropa dan menarik kaum
intelektual dan bangsawan Barat ke negeri-negeri pusatnya. Diantara mereka
terdapat Roger Bacon (Inggeris); Gerbert d’Aurillac yang kemudian menjadi Paus
Perancis pertama dengan gelar Sylvester II, selama 3 tahun tinggal di Todelo
mempelajari ilmu matematika, astronomi, kimia dan ilmu lainnya dari para
sarjana Islam.
Tidaklah mengherankan, karena pada
saat kekhilafahan Islam berkuasa saat itu Spanyol menjadi pusat pembelajaran
(centre of learning) bagi masyarakat Eropa dengan adanya Universitas Cordova.
Di Andalusia itulah mereka banyak menimba ilmu, dan dari negeri tersebut muncul
nama-nama ‘ulama besar seperti Imam Asy-Syathibi pengarang kitab Al-Muwafaqat,
sebuah kitab tentang Ushul Fiqh yang sangat berpengaruh; Ibnu Hazm Al-Andalusi
pengarang kitab Al-Fashl fi al-Milal wa al-Ahwa’ wa an-Nihal, sebuah kitab
tentang perbandingan sekte dan agama-agama dunia, dimana bukti tersebut telah
mengilhami penulis-penulis Barat untuk melakukan hal yang sama.
Di Andalusia (Spanyol bagian
Selatan), berbagai universitasnya pada saat itu dipenuhi oleh banyak mahasiswa
Katolik dari Perancis, Inggeris, Jerman dan Italia. Pada masa itu, para pemuda
Kristen dari berbagai negara di Eropa dikirim berbondong-bondong ke sejumlah
perguruan tinggi di Andalusia guna menimba ilmu pengetahuan dan teknologi dari
para ilmuwan muslim. Adalah Gerard dari Cremona; Campanus dari Navarra; Aberald
dari Bath; Albert dan Daniel dari Morley yang telah menimba ilmu demikian
banyak dari para ilmuwan muslim, untuk kemudian pulang dan menggunakannya
secara efektif bagi penelitian dan pengembangan di masing-masing bangsanya.
Dari sini kemudian sebuah revolusi pemikiran dan kebudayaan telah pecah dan
menyebarluas ke seluruh masyarakat dan seluruh benua. Para pemuda Kristen yang
sebelumnya telah banyak belajar dari para ilmuwan muslim, telah berhasil
melakukan sebuah transformasi nilai-nilai yang unggul dari peradaban Islam yang
kemudian diimplementasikan pada peradaban mereka (Barat) yang selanjutnya
berimplikasi terhadap kemajuan diberbagai bidang ilmu pengetahuan.
Semaraknya pengembangan ilmu dan
pengetahuan di dunia Islam diindikasikan dengan banyaknya perpustakaan tersebar
di kota-kota dan negeri-negeri Islam yang jumlahnya sangat fantastis. Sejarah
mencatat, perpustakaan di Cordova pada abad 10 Masehi mempunyai 600.000 jilid
buku. Perpustakaan Darul Hikmah di Cairo mempunyai 2.000.000 jilid buku.
Perpustakaan Al Hakim di Andalusia mempunyai berbagai buku dalam 40 kamar yang
setiap kamarnya berisi 18.000 jilid buku. Perpustakaan Abudal Daulah di Shiros
(Iran Selatan) buku-bukunya memenuhi 360 kamar. Sementara ratusan tahun
sesudahnya (abad 15 M), menurut catatan Catholik Encyclopedia, perpustakaan
Gereja Canterbury yang merupakan perpustakaan dunia Barat yang paling kaya saat
jumlah bukunya tidak melebihi 1.800 jilid buku.
Sejarah juga mencatat bahwa Uskup
Agung Raymond di Spanyol mendirikan Badan Penterjemah di Todelo yang ditujukan
guna menterjemahkan sebagian besar karangan sarjana-sarjana Muslim tentang ilmu
pasti, astronomi, kimia, kedokteran, filsafat, dll, dimana waktu yang
dibutuhkan untuk menterjemahkannya yaitu lebih dari satu setengah abad
(1135-1284 M).
Dari pusat-pusat peradaban Islam
yang meliputi Baghdad, Damaskus, Cordova, Sevilla, Granada dan Istanbul, telah
memancarkan sinar gemerlap yang menerangi seluruh penjuru dunia terlebih
Cordova, Sevilla, Granada yang merupakan bagian dari kekuasaan Islam di Spanyol
telah banyak memberikan kontribusi besar terhadap tumbuh dan berkembangnya
peradaban modern di dunia Barat.
PERIODE SETELAH DAULAT ABBASIYAH
SAMPAI TUMBANGNYA KEKHILAFAHAN TURKI UTSMANI
Pada masa Khilafah Utsmani, para
ahli sejarah sepakat bahwa zaman Khalifah Sulaiman Al-Qanuni (1520-1566 M)
merupakan zaman kejayaan dan kebesaran yang pada masanya telah jauh
meninggalkan negara-negara Eropa di bidang militer, sains dan politik.
Pasca berakhirnya keluasaan Daulat
Abbasiyah, kepemimpinan Islam berlanjut dengan kepemimpinan Daulat Utsmaniyah.
Daulat Utsmaniyah yang juga dikenal dengan sebutan Kesultanan atau Kekaisaran
Turki Ottoman, didirikan oleh Bani Utsman, yang selama lebih dari enam abad
kekuasaannya (1299 s.d. 1923) dipimpin oleh 36 orang sultan, sebelum akhirnya runtuh
dan terpecah menjadi beberapa negara kecil.
Kesultanan ini menjadi pusat
interaksi antar Barat dan Timur selama enam abad. Pada puncak kekuasaannya,
Kesultanan Utsmaniyah terbagi menjadi 29 propinsi dengan Konstantinopel
(sekarang Istambul) sebagai ibukotanya. Pada abad ke-16 dan ke-17, Kesultanan
Usmaniyah menjadi salah satu kekuatan utama dunia dengan angkatan lautnya yang
kuat. Kekuatan Kesultanan Usmaniyah terkikis secara perlahan-lahan pada abad
ke-19, sampai akhirnya benar-benar runtuh pada abad 20. Musuh-musuh Islam
membutuhkan waktu selama satu abad untuk melepaskan ikatan ideologi Islam dari
tubuh umat Islam, yang pada akhirnya tanggal 3 Maret 1924 M yang bertepatan
dengan tanggal 28 Rajab 1342 Hijriah, melalui Mustafa Kemal Attaturk yang merupakan
agen Inggris dan anggota Freemasonry (sebuah organisasi Yahudi), membubarkan
institusi Kekhilafahan Islam terakhir di Turki dan menggantikannya dengan
Republik Turki. Maka, sejak saat itu ideologi Islam benar-benar terkubur
ditandai dengan dihilangkannya institusi khilafah oleh majelis nasional Turki
dan diusirnya Khalifah terakhir.
BEBERAPA CATATAN PENTING
Menyimak betapa besar kontribusi
Islam terhadap lahirnya peradaban Islam berskala dunia terutama dalam hal ilmu
pengetahuan dan teknologi, sesungguhnya kemajuan yang dicapai Barat pada
mulanya bersumber dari peradaban Islam. Dunia Barat sekarang sejatinya
berterima kasih kepada umat Islam. Akan tetapi pada kenyataannya pihak Barat
(non Muslim) telah sengaja menutup-nutupi peran besar atas jasa para pejuang
dan ilmuwan muslim tersebut yang pada akhirnya terabaikan bahkan sampai
terlupakan. Oleh karena itu, umat Islam perlu kembali menggelorakan semangat
keilmuan para ilmuwan muslim atas sumbangsihnya yang amat besar bagi peradaban
umat manusia di dunia dalam menyongsong kembali kejayaan Islam dan umatnya.
Kita dapat menyimak, bahwa puncak
pencapaian penguasaan sains dan teknologi pada zaman kejayaan umat Islam masa
lalu terkait erat dengan tegaknya sistem kekhilafahan, dimana adanya sistem
komando yang terintegrasi secara global yang peranan secara politik sejalan
dengan peranan agama. Kita juga mendapatkan gambaran dalam sejarah bahwa sosok
para pemimpin terdahulu yang shaleh selain sebagai seorang negarawan yang
handal dan mumpuni, juga sebagai seorang ‘ulama wara’ yang takut pada Rabb-nya,
mencintai ilmu serta mencintai rakyatnya. Pada aspek ini kita bisa melihat
adanya integrasi tiga pilar utama dalam pembentukan peradaban Islam yaitu
agama, politik dan ilmu pengetahuan terpadu dalam satu kendali sistem
kekhilafahan dibawah pimpinan seorang khalifah.
Keberlangsungan sistem kekhilafahan
terutama sejak zaman Daulat Umayyah dan Daulat Abbasiyah walaupun bersifat
khalifatul mulk (estapeta kepemimpinan didasarkan pada keturunan/dinasti) yang
adakalanya dipimpin oleh orang shaleh dan sekali waktu dipimpin oleh orang
zhalim dan durhaka, tetapi seburuk-buruk kondisi pada masa kehilafahan, masih
jauh lebih baik daripada masa setelah tercerabutnya kehilafahan, karena pada
masa kekhilafahan hukum Islam masih tegak dan ditaati oleh umat Islam, demikian
juga adanya ketaatan terhadap berbagai fatwa para ‘ulama.
Segala hal yang baik dari para
pendahulu umat Islam seyogiannya menjadi cerminan teladan bagi kita, sementara
segala hal yang kurang baik, sejatinya dijadikan sebagai pelajaran yang sangat
berharga.
Awal meredupnya peradaban Islam yang
terjadi sejak abad ke-8 hijriah (abad 13 M) hingga abad ke-14 hijriah (abad 20
M) yang telah mengakibatkan proses peralihan dari peradaban Islam ke keradaban
Barat yang ditandai dengan masa pencerahan di dunia Barat serta terjadinya
penjajahan, penaklukan dan aneksasi terhadap negeri-negeri muslim oleh armada
perang dari negara-negara Barat lebih disebabkan oleh melemahnya legitimasi
politik dunia Islam karena peran kekhilafahan cenderung bersifat simbol serta
hanya sebatas seremonial saja hingga tumbangnya sistem kekhilafahan di dunia
Islam. Dari situlah kemudian dimulainya hegemoni dunia Barat terhadap dunia
Islam.
Jadi, sesungguhnya faktor utama
kekalahan dan melemahnya peran umat Islam bukanlah terletak pada kuatnya pihak
musuh-musuh Islam, tetapi lebih disebabkan oleh melemahnya kekuatan umat Islam
yang diakibatkan oleh perbuatan kemaksiatan yang dilakukan. Kemaksiatan
terbesar terutama berupa sikap menyekutukan Alloh Swt (musyrik) dalam beribadah
serta tidak memperdulikan lagi atas berbagai aturan (syari’at) yang
diperintahkan-Nya.
Perbuatan maksiat yang dilakukan
oleh umat Islam itulah yang telah dikhawatirkan oleh Umar bin Kaththabr.a. saat
beliau menjadi Khalifah, hal ini sebagaimana dapat kita simak dari pesan
tertulis beliau yang pernah disampaikannya kepada Sa’ad bin Abi Waqash ketika
akan menghadapi sebuah pertempuran. Pada surat itu ditulis pesan sebagai
berikut:
“Umar bin Kaththab ra. telah menulis
sepucuk surat kepada Sa’ad bin Abi Waqash r.a.: ‘Sesungguhnya kami
memerintahkan kepadamu dan kepada seluruh pasukan yang kamu pimpin, agar taqwa
dalam segala keadaan, karena taqwa kepada Alloh merupakan seutama-utamanya
persiapan dan strategi paling kuat dalam menghadapi pertempuran. Aku
perintahkan pula kepadamu dan pasukan yang kamu pimpin agar benar-benar menjaga
diri dari berbuat maksiat. Karena maksiat yang engkau perbuat pada saat
berjuang lebih aku khawatirkan daripada kekuatan musuh, sebab engkau akan ditolong
Alloh jika musuh-musuh Alloh telah berbuat banyak maksiat, karena jika tidak
demikian kamu tidak akan punya kekuatan sebab jumlah kita tidaklah sebanyak
jumlah pasukan mereka, dimana persiapan mereka berbeda dengan persiapan yang
kita lakukan. Jika kita sama-sama berbuat maksiat sebagaimana yang dilakukan
oleh musuh-musuh kita, maka kekuatan musuh akan semakin hebat. Sangatlah berat
kita akan dapat mengalahkan musuh kita jika hanya mengandalkan pada kekuatan
yang kita miliki, kecuali dengan mengandalkan ketaqwaan kita kepada Alloh dan
senantiasa menjaga diri dari berbuat maksiat...” (Lihat : Kitab Al ‘Aqdul Farid
jilid I, hlm. 101; Kitab Nihayatul Arab jilid VI, hlm. 168; Kitab Ikhbarul Umar
wa Ikhbaru Abdullah bin Umar jilid I, hlm. 241-242; Kitab Ikbasu min Ikhbarul
Khulafa Ar-Rosyidin hlm 779, serta buku Jihad tulisan Dr. Mahfudz Azzam, hlm.
28).
Read more: http://fisikasma-online.blogspot.com/2010/01/jejak-kegemilangan-umat-islam-dalam_29.html#ixzz1rWeP2y6Y
Under Creative Commons License: Attribution
http://fisikasma-online.blogspot.com/2010/01/jejak-kegemilangan-umat-islam-dalam_29.html
Langganan:
Postingan (Atom)


